Menanam Mangrove adalah Hal Mudah; Membuatnya Tetap Hidup, Itu Soal Lain
INDONESIAWARTA – Coba bayangkan begini: kamu ikut menanam mangrove di sebuah pesisir, kaki penuh lumpur, tangan kotor, tapi hati senang karena sudah menanam lebih dari 60 bibit hari itu.
Dokumentasi diunggah, caption penuh semangat, dan rasanya kita baru saja menjadi pahlawan yang terasa sudah ‘menyelamatkan bumi’.
Pertanyaannya: dua tahun lagi, berapa bibit yang bertahan hidup?
Jujur saja, jarang ada yang kembali mengontrolnya dan disitulah masalah sebenarnya bersembunyi.
Angka Besar, Cerita yang Belum Komplit
Klaim seperti ‘satu juta pohon ditanam’ memang terdengar sangat heroik. Tapi angka tersebut sebenarnya baru menceritakan separuh kisah, yaitu hari pertama. Yang jarang sekali diceritakan adalah apa yang terjadi setelahnya.
Beberapa data lapangan cukup mengejutkan. Sebuah tinjauan di jurnal Frontiers in Marine Science mencatat bahwa kegiatan-kegiatan rehabilitasi mangrove monokultur di pulau semakau, singapura, harus menanam berulangkali bibit mangrove karena kematian propagul mencapai sekitar 94%, hal ini cukup umum terjadi pada proyek rehabilitasi monokultur secara lebih luas.
Kajian lain di jurnal Science Direct merangkum kondisi serupa di berbagai negara: tingkat kelangsungan hidup mangrove yang ditanam di Filipina kerap kali masih dibawah 20% meski sudah puluhan tahun.
Sementara di Sri Lanka, 9 dari 23 lokasi penanaman yang sudah diteliti bahkan mencatat tingkat kelangsungan hidup 0%.
Bukan berarti semua kegiatan rehabilitasi gagal, ada juga kabar baik. Proyek USDA Forest Service bersama komunitas di Madagaskar berhasil menaikkan tingkat kelangsungan hidup bibit dari dibawah 10% menjadi sekitar 90% setelah merubah pendekatan mereka.
Di Indonesia sendiri, praktik rehabilitasi berbasis silvofishery di NTB tercatat mampu mencapai tingkat kelangsungan hidup bibit hingga 90%, salah satunya karena masyarakat setempat ikut memantau dan mengganti bibit yang mati secara rutin.
Jadi bukan berarti menanam mangrove itu sia-sia. Yang jadi masalah adalah ketika penanaman dianggap sebagai garis akhir, padahal sebenarnya adalah garis start.
Kenapa Satu Jenis Bibit saja Belum Tentu Cocok di Semua Tempat?
Ini bagian yang seringkali luput dari pembicaraan, padahal sederhana jika dijelaskan dengan analogi sehari-hari.
Bayangkan pantai adalah sebuah rumah dengan beberapa ruangan berbeda: ada teras depan yang langsung terkena hujan dan angin, ada ruang tengah yang lebih terlindung, dan ada halaman belakang yang tenang.
Kamu, pastinya tidak akan menaruh sofa empuk di teras depan yang serig terkena hujan, kan? Nah, mangrove juga demikian, setiap jenis mangrove memiliki ‘ruangan’ masing-masing.
Di bagian terdepan pantai yang langsung terkena ombak dan air asin, jenis mangrove yang paling tahan banting biasanya jenis Avicennia (api-api) atau Sonneratia (pedada). Akar mereka dirancang alam untuk menahan hantaman gelombang dan mengikat lumpur yang labil.
Sayangnya, bibit yang paling sering digunakan di lapangan untuk rehabilitasi adalah jenis Rhizophora, bukan karena paling cocok di semua tempat, tapi karena propagulnya besar, mudah didapat, mudah dan gampang ditanam oleh relawan yang berpengalaman.
Ketika bibit ini dipaksakan tumbuh di zona yang sebenarnya bukan ‘rumahnya’, maka keberhasilan rehabilitasi hanya akan menjadi angan semata.
Sebetulnya, ini bukan salah siapa-siapa, ini lebih ke soal kurangnya ‘kecocokan’ antara bibit dan tempat ditanamnya, seperti menaruh tanaman kaktus di rawa. Niatnya baik, namun hasilnya belum tentu sesuai harapan.
Bibit Muda juga Menghadapi Dunia yang Keras
Setelah ditanam, bibit mangrove yang masih muda sebenarnya sedang berjuang di lingkungan yang cukup ektrem. Ada beberapa ujian yang harus mereka lewati:
Ombak dan arus pasang surut yang bisa mencabut akar yang belum kuat menancap, Kepiting yang kadang memotong daun muda.
Teritip (barnacle) yang menempel dan menutupi pori pernapasan. Sampah laut, terutama plastik dan jaring nelayan yang kadang tersangkut dan mematahkan bibit.
Bayangkan, bibit-bibit ini seperti bayi yang baru belajar berjalan, tapi langsung dilepas ketengah keramaian.
Tanpa orang lain yang memantau dan membantu selama masa rentannya ini, wajar jika banyak bibit-bibit yang sudah tertanam banyak yang tidak bisa bertahan.
Kunci Keberhasilan Rehabilitasi Mangrove
Ini mungkin bagian yang cukup penting. Menurut beberapa penelitian, justru yang paling menentukan, tapi paling jarang mendapatkan perhatian (sorotan), karena memang kurang fotogenik, dibanding acara penanaman.
Beberapa riset menyebutkan bahwa keterlibatan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi rehabilitasi adalah bagian lain yang sangat menentukan keberhasilan rehabilitasi. Hasil penelitian lainnya juga memberikan informasi yang sangat penting mengenai hal ini.
Masyarakat yang secara swakelola menjalankan rehabilitasi dan menerapkan pemantauan secara berkala terhadap tumbuh kembang bibit, gangguan hama dan pencemaran, lalu mendiskusikan solusinya, sebenarnya merupakan bentuk lain dari kunci keberhasilan rehabilitasi.
Dengan kata lain, masyarakat pesisir yang tinggal dekat dengan masyarakat sebenarnya bukan sekedar “tenaga tanam”, tapi bisa menjadi penjaga jangka panjang yang akan menentukan keberhasilan rehabilitasi, asal diberi peran dan penghargaan (insentif) yang jelas.
Model seperti silvofishery, ekowisata, dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu bisa jadi cara agar masyarakat punya alasan ekonomi untuk merawat mangrove, bukan menebangnya.
Selama ini, sebagian besar kegiatan/proyek rehabilitasi memang lebih banyak menghabiskan biaya pada fase awal yaitu pada kegiatan pengadaan bibit, logistik acara dan kebutuhan seremonial peluncuran kegiatan.
Sementara itu, bagian penting yang harusnya menjadi bagian yang tidak boleh luput dari perencanaan pembiayaan adalah pemantauan dan pemeliharaan pasaca tanam.
Ini bukan soal mencari siapa yang salah. Semua pihak yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi sejatinya memiliki niatan yang baik untuk merawat bumi ini.
Yang perlu dirubah adalah tolok ukurnya: dari sekedar “berapa banyak bibit yang ditanam”, menjadi “berapa persen yang hidup dan berhasil tumbuh bertahan pada tahun ke-3”, atau “berapa kanopi yang benar-benar tumbuh”.
Menamam mangrove merupakan langkah awal yan baik dan tetap penting, bukan berarti tidak perlu dilakukan.
Tetapi, merayakan hari pertama penanaman saja tidaklah cukup untuk menyimpukan bahwa kita telah menyelamatkan bumi dan seisinya.
Yang paling pantas dirayakan adalah ketika bibit-bibit itu tumbuh, berakar kuat, saling menutup membentuk kanopi, dan kembali menjadi rumah untuk kepiting, ikan dan burung, sekaligus menjadi benteng alami wilayah pesisir.
Jadi, jika suatu saat mendengat kabar “sekian juta bibit mangrove ditanam”, pertanyaan yang lebih menarik untuk ditanyakan adalah bukan “berapa banyak”, tapi, “berapa yang masih hidup dan siapa yang mewaratnya lima tahun kedepan”.
Oleh : Samsul Hadi
Peneliti Mangrove dan Dosen Institut Teknologi dan Kesehatan Aspirasi, Lombok.
